Home » Artikel » Menyikapi Rejeki

Menyikapi Rejeki

rezeki12Nabi Musa menyaksikan seorang fakir, yang karena kefakirannya tidur di atas tanah padang pasir tanpa baju. Setelah beliau mendekatinya, si fakir berkata, “Wahai Musa, mohonlah kepada Allah agar memberi saya sedikit rejeki yang dapat membebaskan saya dari kemiskinan ini”.

Karena prihatin melihat kondisi si fakir, Nabi Musa lalu memohon kepada Allah agar dikaruniakan kepadanya rejeki yang diperlukannya, lalu beliau segera melanjutkan perjalannya ke gunung untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Hari berikutnya, Nabi Musa pulang melalui jalan yang sama dan melihat si fakir yang telah dia doakan dalam keadaan terikat, babak belur dan dikelilingi oleh sekelompok orang.

Nabi Musa AS bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Mereka menjawab, “Baru saja dia mendapatkan uang, lalu digunakannya untuk minum arak sampai mabuk dan melakukan penyerangan hingga membunuh seseorang. Dan sekarang mereka menangkapnya untuk melaksanakan hukum qishash dan menggantungnya”.

Rejeki merupakan salah satu nikmat Allah, sekaligus amanat yang cukup berat dari Allah SWT. Ada dua sikap ekstrem yang mengiringi manusia ketika memperoleh rejeki dari Allah SWT. Ada yang ketika menerima karunia rejeki mereka bersyukur, mengagungkan pemberian dan memikirkan untuk berbagi. Pada sebagian besar yang ketika mendapatkan limpahan rejeki mereka lupa daratan. Melupakan Allah SWT sebagai pemberi dan berbuat semau egonya untuk menghamburkan rejeki.

Acapkali, ketika seseorang mendapatkan rejeki, mereka lupa diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah SWT memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rejeki sesuai syariat-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rejeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi”.

Sungguh rejeki itu merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah SWT. Betapa Allah SWT memberikan kepada setiap makhluk-Nya curahan rejeki. Firman Allah SWT. “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rejekinya. (QS. Hud : 6)”.

Rasulullah SAW bersabda “ Rejeki itu mengejar seorang hamba dengan cepat, melebihi kematiannya”.

Tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak menentukan rejekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, harus berusaha mencari rejeki dengan cara halal. Jika dia telah berusaha tetapi masih mendapat kekurangan, jangan sampai ada pikiran untuk mencarinya dengan cara yang haram. Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini adalah bersabar dan tetap bersyukur kepada-Nya.

Setiap manusia memiliki cara khusus dalam mencari rejeki; sebagian menjadi pedagang/berbisnis, sebagian menjadi kuli angkut barang, sebagian menjadi pegawai. Jika seseorang tidak merasa puas dan cukup dengan pembagian ini, maka dia akan dihinggapi oleh sifat hina tamak dan serakah. Dan demi memuaskan keserakannya itu dia akan melakukan berbagai perbuatan haram demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari perbuatan terjela ini, melainkan dengan bertawakal dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.

Sebaik-baik cara mencari rejeki Allah SWT adalah melakukan ikhtiar dengan segenap daya dan upaya di jalan yang halal dan diridhoi Allah. Mengiringi setiap upaya kita dengan untaian doa dan amal sholeh. Secara konsisten dengan penuh keikhlasan mencari jalan menggapai rejeki halal, dan selalu bersyukur di kala dikaruniai rejeki dan terus bersabar jika Allah belum memberi karunia rejeki bagi kita. Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah mendzalimi hamba-Nya.

Tahap selanjutkan untuk mendapatkan keberkahan rejeki adalah, sucikan rejeki kita dengan berbagi baik dalam bentuk zakat, sedekah, hibah dan wakaf untuk dhuafa dalam basis keikhlasan. Dalam pemberian tersebut upayakan mengagungkan adab-adab member. Salah satunya adalah dalam memberi hendaknya dilakukan dengan penuh kerendahan dan pengabdian karena sejatinya ketika kita berbagi, kita sedang menyambut ‘uluran tangan tuhan’.

Kemudian ketika kita memiliki niat memberi maka bersegeralah untuk mereleasasikan niat kita. Karena ketika kita menunda untuk memberi maka biasanya akan menjadi budaya untuk menunda dan akhirnya tidak jadi memberi.

Kemudian setelah memberi kita berupaya belajar mengikhlaskan. Biasanya setelah memberi pun terkadang kita merasa ada yang hilang. Itu manusiawi, tetapi sekuat mungkin kita belajar terus mengikhlaskan. Jika secara terus menerus kita belajar mengikhlaskan maka pada suatu titik kita akan terbiasa untuk member dan bahkan reflek untuk member kepada orang-orang yang membutuhkan.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita bersyukur dan berbagi atas rejeki yang ada pada kita. Wallahu’alam bis ash-shawab.

1,502 total views, 12 views today

About Admin

Umrah Quantum Spiritual Qalbu

Check Also

Memberi itu Indah

Seorang guru yang bijak tengah berjalan2  santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: